Sabtu, 12 April 2014

Mengapa Hidup ini Sangat Sulit

     Kita mendapatkan pelajaran besar dalam hidup ketika kita mengalami masalah besar. Mengapa? Karena lebih mudah untuk tidak berubah. Sehingga kita terus melakukan apa yang kita lakukan sampai menjadi terlalu menyakitkan.



     Misal saja kesehatan kita. Kapan kita mengubah pola makan dan mulai berolahraga? Saat tubuh kita sakit.. ketika dokter berkata,"Jika Anda tidak mengubah gaya hidup Anda, Anda akan membunuh diri Anda sendiri!" Mendadak kita termotivasi!

     Dalam hubungan, kapan kita biasanya mengatakan seberapa besar kita saling menyayangi? Saat pernikahan hancur, ketika keluarga hancur! 
     Di sekolah, kapan kita akhirnya mengalah dan belajar? Saat kita hampir tidak lulus.
     Dalam bisnis, kapan kita mencoba berbagai ide baru dan mengambil keputusan yang sulit? Saat kita tidak bisa membayar tagihan. Kapan kita akhirnya belajar tentang layanan pelanggan? Setelah pelanggan telah pergi.

     Kita mendapatkan pelajaran terbesar ketika keadaan menjadi sulit. Kapan Anda mengambil keputusan paling penting dalam hidup Anda? Saat Anda berlutut untuk berdoa.. setelah mengalami bencana, setelah Anda ditolak, ketika Anda dikecewakan. Saat itulah kita berkata kepada diri kita,"Aku bosan tidak memiliki uang, Aku bosan menjadi orang biasa. Aku akan melakukan sesuatu."

     Kita merayakan keberhasilan kita, tetapi kita tidak banyak belajar dari keberhasilan tersebut. Kegagalan memang menyakitkan, tetapi pada saat itulah kita belajar. Jika ditinjau kembali, kita biasanya menyadari "bencana" adalah titik balik bagi kita.

Mengapa Saya?

Saat tragedi terjadi dalam hidup kita atau ketika kita kehilangan segalanya atau tatkala kekasih meninggalkan kita, pertanyaan yang biasanya kita ajukan adalah "MENGAPA? MENGAPA Saya? MENGAPA sekarang? MENGAPA dia meninggalkan saya demi seorang pecundang? Mengajukan pertanyaan "MENGAPA?" bisa membuat kita gila. Seringkali semua pertanyaan "MENGAPA" itu tidak ada jawabannya. Atau jawabannya tidak penting!

     Orang-orang yang efektif mengajukan pertanyaan "APA?", "APA yang saya pelajari dari ini? APA yang akan saya lakukan?" Ketika situasi menjadi sangat menyedihkan, mereka balik bertanya,"APA yang bisa saya lakukan untuk hari ini saja, agar keadaan menjadi lebih baik?"

     Orang-orang efektif tidak mencari masalah, tetapi ketika mereka megalami masalah, mereka bertanya kepada diri mereka,"Apakah saya perlu mengubah apa yang saya pikirkan dan apa yang saya lakukan? Bagaimana saya bisa menjadi orang yang lebih baik dari sekarang?" Para pecundang mengabaikan semua tanda-tanda peringatan. Ketika atap roboh, mereka bertanya,"Mengapa semua ini terjadi pada diri saya?"

     Kita adalah makhluk yang mengandalkan kebiasaan. Kita terus melakukan apa yang kita lakukan sampai kita dipaksa untuk berubah.

     Mary dicampakkan oleh kekasihnya yang bernama Al. Dengan hati yang hancur, dia mengunci dirinya dalam kamar tidur selama satu minggu. Kemudian perlahan dia mulai menelepon teman-teman lamanya dan bertemu dengan teman-teman baru. Tak lama kemudian dia pindah rumah dan pindah pekerjaan. Dalam waktu enam bulan dia lebih bahagia dan lebih percaya diri dari yang pernah dia rasakan sepanjang hidupnya. Dia menganggap "bencana" kehilangan Al sebagai hal terbaik yang pernah terjadi pada dirinya.

     Fred dipecat. Karena tidak bisa mendapatkan pekerjaan, dia mendirikan usaha kecilnya sendiri. Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia menjadi majikan bagi dirinya sendiri dan melakukan apa yang benar-benar ingin dilakukannya. Dia masih memiliki beberapa masalah, tetapi hidupnya memiliki makna dan kegembiraan baru.. dan semuanya jauh dari bencana yang tampak nyata.

Intinya
Orang-orang yang paling bahagia tidak peduli apakah hidup ini adil atau tidak. Mereka hanya memusatkan perhatian pada apa yang mereka miliki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar